Sabtu, 20 Januari 2018

Universe Goes to Ngayogyakarta Part 3: DEAMIN dan Sulap-Sulapan

Baca dulu sebelumnya: Bagian 1 dan Bagian 2



Sesampainya di Hotel, kami langsung masuk dan menempati kamar-kamar yang telah dibagi. Setiap kamar paling sedikit ditempati oleh lima orang. Relatif cukup untuk saya, yang kebagian satu kamar bersama lima orang teman saya. Ada ceritanya, tapi nanti dulu. Saya ingin bersin.

Ha, ha, ha…

Gajadi.

Maaf.

Jumat, 12 Januari 2018

Universe Goes to Ngayogyakarta Part 2



Biarkan saya membuka tulisan ini dengan pantun:
Pergi ke jogja bareng pacar
Pacar hilang diambil orang
Yoweslah.

Oke, saya anggap sampeyan sudah membaca judul dan paham maksud dari kata ‘bagian 2’. Yaktul. Artinya ada bagian satu. Dimana? Cari sendiri. Jangan manja. Apalagi manja tebing. Bahaya. Ingat. Keluarga yang menanti di rumah.

Senin, 08 Januari 2018

Universe Goes to Ngayogyakarta

Yayaya, saya tahu tidak semua orang paham maksud kata universe di judul. Singkatnya, itu adalah nama kelas yang ssedang saya duduki bersama teman-teman lainnya dari dua tahun belakangan. Jadi, terkesan bodoh kalau sampeyan mengartikannya mentah-mentah menjadi 'semesta', walaupun masih enak didengar telinga. 

Sebagaimana tulisan yang masuk dalam label Catatan Harian lainnya, tulisan ini sengaja dibuat, tanpa ada paksaan dari pihak manapun, semata-mata hanya untuk mengikat momen, yang saya anggap penting dan perlu dipastikan saya tidak boleh melupakannya. Seperti kata maestro Pramoedya A. Toer: Menulis adalah bekerja untuk keabadian. 

Jumat, 22 Desember 2017

Apa Bunuh Diri Adalah Jawaban?

Bisa jadi.

Karena, setiap kita, mendapat pertanyaan pertanyaan yang berbeda dalam menjalani hidup, yang mana jawabannya pun tergantung diri kita sendiri, dan untuk masalah ini, sayangnya, kita tak punya kesempatan untuk menyontek orang lain. Belum tentu kita mendapat pertanyaan yang sama dengan siapapun di dunia, maka dari itu, hidup adalah perjalanan yang panjang dan hanya diri kita sendiri yang tahu kemana kita akan pergi. Orang lain tak tahu apa yang sedang kita hadapi dan lalui, yang mereka tahu hanya kita, setelah melewati segala masalah pribadi, masih hidup dan sesekali mengumbar senyum di keramaian. Ada hal hal yang kita tak ingin orang lain mengetahuinya dan membiarkannya menjadi urusan personal.

Dari Senja

Senja tahu mana yang pura-pura merindu dan yang seutuhnya menunggu, saat tak ada warna jingga merekah indah dan hanya kelabu mendung, mereka yang bersungguh-sungguh akan menerimanya seada-adanya, karena mereka tahu, dibalik gumpalan awan menggulung itu, ada senja yang bersembunyi. Dan yang berpura-pura demi sensasi akan pergi, meninggalkan senja begitu saja, tanpa rasa pun gelisah.

Bahwa apa-apa saja yang benar kau cinta, dan jika ia balik mencintaimu, seharusnya takkan pernah mengecewakanmu. Ada hubungan di situ, keterkaitan, yang kata-kata tak mampu menjelaskannya dalam rangkaian sajak nan indah. Satu hal yang perlu kau tahu, adalah kau tinggal mempercayainya, lalu membiarkan alam semesta membantu mencapai tujuanmu.

Bermula dari senja, kita bersinggungan dengan cinta dan semesta. Betapa lucunya kita menghayal. Hawa sehabis hujanlah yang membawa kita kemari, disambut aroma khas tanah basah. Sejuk penuh ketenangan.


Ucap Ultah

Biasanya saya menulis tentang hari ulang tahun saya tepat hari itu juga, kali ini saya baru membahasnya tujuh hari kemudian dan tidak ada yang peduli akan hal itu, saya tahu. Karena memang tulisan ini sebenarnya tidak ditulis atas dasar menyenangkan pembaca atau siapapun sampeyan, melainkan sebagai catatan pribadi tentang hari ulang tahun saya dari tahun ke tahun, yang sejujurnya tak ada perbedaan yang mencolok. Alasannya adalah karena ingatan manusia lambat laun kian melemah, dan sepertinya tempat ini akan menyimpannya untuk jangka waktu yang panjang, sehingga suatu saat nanti ketika saya punya waktu dan ingin mengingat bijaknya saya waktu masih muda, saya bisa kembali ke sini dan menyesali betapa bodohnya saya yang dulu.

Rabu, 13 Desember 2017

Turun Dimana Bel?



Beberapa hari yang lalu, di linimasa aplikasi pesan singkat Line, ramai membahas sesuatu hal yang bisa dibilang sensitive untuk dibagikan secara umum. Adalah sebuah video seseorang, maaf, banci digoda di suatu gerbong kereta oleh salah seorang penumpang dan penumpang lainnya hanya menonton, beberapa merekam, seolah itu adalah pertunjukkan yang disajikan oleh pihak kereta api. 

Pertama kali melihat video itu, terus terang, saya tertawa dan malah berniat membagikannya ke teman-teman saya, namun saya urungkan. Beberapa hari selanjutnya, di sekolah saya, teman-teman juga menirukan gaya penumpang yang menggoda banci, kebetulan ada teman saya yang memiliki nama yang sama dan ya, karena paham referensinya, saya pun kembali tertawa.