Minggu, 19 November 2017

Setya Tak Ksatria



Sebagai ciptaan yang berakal, tentu setiap kita tahu, dalam beberapa kesempatan, terlalu berharap pada seseorang pada akhirnya hanya akan menyakiti hati dan memupuk emosi. Karena, di dunia yang penuh sandiwara ini kita hampir tak bisa mempercayai siapapun. Suatu saat kita akan sampai di titik yang disebut Zero trust. Dan itu salah satu pertanda bahwa masa depan akan semakin suram, semua saling curiga dan benci satu sama lain.

Sekali dikhianati, selanjutnya pasti susah untuk percaya. Contoh paling sederhana, karena sebagai orang Indonesia pastilah sudah tak asing lagi, adalah politisi yang korupsi. Dari dulu sampai sekarang, selalu ada saja kasus korupsi, suap menyuap dan sejenisnya, seolah sudah mengakar dan bersambung layaknya tongkat estafet, berlanjut dari generasi ke generasi.  

Minggu, 12 November 2017

Sebagian Politisi

tebar janji kau seperti peri
sering, sering sekali
lama lama tak berarti
lalu kau biarkan sampai basi

dasar tai

kami percaya sembari waspada
berdoa semua sejahtera
tak ada lagi yang menderita
hidup tentram bahagia

sial, kami salah

uang rakyat kau sikat
tidur sampai berliur waktu rapat
tak tahu kau ada yang sekarat
menunggu janji janjimu setiap saat

ah bangsat

sudahlah, tolong hentikan,
kasihanilah kami yang tertekan,
yang mau tidak mau,
harus memilih bajingan di antara kalian,
politisi yang sepantasnya dibenci.

Senin, 30 Oktober 2017

Orasi: Sumpah Pemuda dan Bahasa Indonesia



Tadi pagi, sekolah saya mengadakan lomba orasi dan membuat puisi untuk menyambut sumpah pemuda sekaligus bulan bahasa. Pokok bahasan kali ini adalah bagaimana mengajak pemuda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kabar baiknya, saya berniat menjadi orator dalam acara tersebut, mewakili kelas saya. Sebelumnya sudah dirundingkan siapa yang akan maju dan mencapai ketidakjelasan  siapa yang akan berdiri di mimbar. Sebenarnya saya, sebagai ketua kelas, telah menunjukkan salah seorang teman, sebut saja topiqoh, bahkan telah membuatnya teks untuk orasi. Namun di sisi lain, saya ingin membawakan teks bikinan saya sendiri akan tetapi agak ragu, karena saya harus menampilkannya di lapangan dan ditonton hampir satu angkatan. Sebelumnya tak pernah saya berbicara di depan banyak orang, paling pol itu ya sewaktu presentasi di kelas, itupun hanya dilihat teman-teman sendiri, yang mana tak begitu saya pedulikan pendapat mereka.

Ayo Pemuda!



Matahari bersinar membara
Peluh luruh mengalir
Semua terdiam tanpa kata
Proklamator bersuara sepenuh jiwa
Tentang tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan
“Kuserahkan semuanya pada kalian para pemuda!”
Bingung tertegun mereka
Ada yang pesimis, menyerah tanpa berjuang
Yang lain terbakar api semangatnya
Pilih memilih memang sulit
Tapi harus ada tindakan
Tetap berjuang demi bangsa adalah cara kita menghargai pendiri bangsa
Ayo pemuda, mari bekerja sama
Menjunjung setinggi-tingginya Indonesia
Mengharumkan namanya
Menjaganya dengan jiwa dan raga
 Indonesia jaya!

Selasa, 24 Oktober 2017

Sedikit Tentang Etika

Saya bukan jenis orang yang teliti, tapi di satu sisi, saya senang memperhatikan hal yang mungkin ridak terlalu penting bagi sebagian orang, dan lama-kelamaan pemikiran-pemikiran itu begitu mengganggu saya. Setelah itu, biasanya, akan muncul beberapa pertanyaan kenapa bisa demikian. Padahal hal tersebut cukup jelas dan mungkin orang lain saja yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi mereka. Bisa jadi karena saya terlalu peka atau punya banyak waktu luang sehingga dapat muncul dengan sebuah keresahan. Bisa dibilang kurang kerjaan memang. 


Meski kurang ajar begini, saya tahu sedikit tentang etika. Tidak banyak, kebanyakan malah hal-hal sepele. Sesuatu yang bisa dibilang serius bila diseriusi dan sepele bila disepelekan. Mungkin banyak yang tak menyadarinya, namun setelah membaca ini, saya harap sampeyan tergugah dari tidur sampeyan dan sepenuhnya sadar bahwa selama ini mungkin ada hal-hal kecil yang sampeyan lakukan.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Selamat Jalan, Cap!



Sore itu saya sedang bersantai sambil membaca-baca linimasa. Tak ada yang aneh, cenderung sama saja dengan hari sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya. Hal-hal yang tak begitu penting, namun selalu berhasil mengusik rasa penasaran saya untuk tetap turun lebih jauh, yang memenuhi linimasa saya. Tiba-tiba saja, mencul sebuah berita yang, bagi saya, sangat mengejutkan : Choirul Huda Meninggal.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Definisi Sedih

Kau tahu kekasih,
Sedih tak melulu tentang seberapa banyak air mata yang jatuh
Terkadang ia berupa kata-kata yang menafsirkan rasa
Mengalun dalam rima dan terselingi koma
Sendu, begitu sendu, jika kau tahu
Sayangnya kau terlalu sibuk dengan sesal 
Lalu membiarkan emosi meluap membabi buta
Atau bahkan tak peduli lagi
Mungkin aku sedang sedih, mungkin juga tidak
Tapi, di sinilah aku, di antara kata dan bayangan kita di masa lalu yang begitu bahagia
Sadarlah, kekasih, rangkaian kata ini bukan apa-apa
Seperti kita yang tak lagi berkaitan dan berpaling muka
Pergi dan mengilang dengan segala rasa