Kamis, 03 Januari 2019

Berkarya: Ekspresi dan Ekspektasi


Waktu itu pukul sebelas malam. Tak ada kesibukan khusus yang saya lakukan hingga terjaga selarut itu, hanya mengamati linimasa akun media sosial saya, sebuah kebiasaan yang cukup sulit untuk dihilangkan. Kemudian, tiba-tiba, ponsel saya bergetar menandakan ada pesan masuk. Tentu bukan dari pacar saya, karena pasti ia sudah tidur sehabis azan isya, ditambah lagi saya tidak punya pacar. Oke. Pesan itu datang dari salah seorang teman. Berikut isi pesannya:



Minggu, 23 Desember 2018

Hari Lahir dan Kaleidoskop 2018


Tidak ada yang menyuruh sampeyan membaca tulisan ini. Baca tulisan yang lain saja. Hush.

Sebelumnya, tulisan tentang hari kelahiran saya selalu berisi dengan hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang saya lakukan sebagai perayaan atas munculnya saya di dunia, kemudian saya sadar bahwa hampir tiap tahun semuanya tak jauh berbeda. Tidak ada kejutan, kue, badut, dan hal kekanak-kanakan lainnya. Tak apa. 

Oya, saya sedang flu dan agak pusing ketika menulis postingan ini, jadi saya punya alasan, selain saya memang begini adanya, jika sampeyan menemukan kata-kata atau kalimat yang membingungkan. Maafkan. Lagipula, tidakkah sampeyan punya aktivitas lain yang lebih bermanfaat ketimbang membuang-buang waktu dan kuota, barangkali, pada hal yang sama sekali tidak memengaruhi hidup kalian. 

Sabtu, 03 November 2018

Beragama Dalam Keberagaman


Akhir-akhir ini konflik bermunculan di pelbagai tempat sebagaimana wabah penyakit menjelang musim hujan. Dan yang seperti kita tahu, tak ada yang mengharapkan terkena demam berdarah, tipes, atau segala perwujudan penyakit lainnya. Tentu kita tak bisa menghindar atau menolak fakta, bahwa bagaimanapun, dalam kondisi apapun, konflik pasti ada. Yang membuat saya mengernyitkan dahi hingga kedua alis saya saling beradu adalah alasan atau latar belakang konflik itu terjadi, yang seringkali otak saya tak mampu mencernanya dan ditolak mentah-mentah oleh akal sehat saya. Entah kenapa.

Minggu, 14 Oktober 2018

Menunggu Bencana


Duka sedalam-dalamnya saya sampaikan pada saudara-saudara saya di Lombok, Palu, dan Situbondo. Saya bukan orang yang mudah tersentuh, kecuali hal tersebut menyangkut keluarga saya sendiri. Dan ketika mendengar kabar dan melihat lewat video-video yang beredar di dunia maya tentang musibah yang menimpa saudara-saudara saya, pertama gempa di Lombok, lalu tsunami di Palu dan--semoga menjadi yang terakhir, gempa Situbondo, saya sangat terpukul. Apa yang telah mereka lakukan sehingga mendapat musibah seperti itu?


Berhari-hari musibah di tiga daerah tersebut menjadi topik utama di pelbagai media. Reruntuhan bangunan, wajah-wajah sedih dan lesu, dan macam-macam dampak lainnya, menjadi pembahsan yang terlalu menyayat hati untuk diikuti. Bahkan, ketika intensitas berita di media terkait bencana di ketiga daerah tersebut berkurang, duka masih terasa di linimasa Twitter saya. Ada yang kehilangan keluarga dan masih berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya, ada yang pergi menjauh untuk mencari hidup baru, sebab ia sudah tak punya apa-apa lagi di kampung halamannya. Mereka berjuang, mereka percaya tentang sesuatu yang disebut harapan.

Senin, 10 September 2018

Aku Jancuk Padamu


Telinga saya sudah menjadi teman akrab kata-kata jancuk sejak bangku madrasah ibtida’iyah. Kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, kata jancuk seolah menjadi kata imbuhan yang menghiasi setiap bentuk perkataan, tak peduli itu kalimat perintah, sapaan, atau ungkapan kegembiraan maupun kekesalan. Bagi beberapa orang, sulit untuk menghindari hal tersebut, karena telah menjadi kebiasaan yang berlangsung dalam waktu yang lama.


Saya sendiri, dulunya, tidak berani untuk mengucapkan kata jancuk, apapun kondisinya, karena keluarga saya mengatakan kalau kata jancuk adalah kata kotor yang tak sepatutnya diucapkan dan saya akan mendapat dosa ketika mengucapkan kata tersebut. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, tentu saja larangan itu saya patuhi, meski tak begitu yakin perihal hukum pengucapannya dalam agama.

Minggu, 29 Juli 2018

Universe Goes to Ngayogyakarta Part 5: Merapi Volcano Tour!


Part sebelumnya baca di sini
 
Setelah kejadian yang luar biasa tadi, akhirnya saya bangun, tanpa ada teriakan minta tolong. Sebelumnya kami sepakat untuk memasang alarm di waktu yang sama agar bisa serentak membangunkan kami semua, tapi ya kenyataannya tidak demikian. Entah dibangunkan teman atau suhu dingin, saya lupa, saya bangun kemudian langsung mandi. Pukul sekitar 4 pagi waktu itu dan subhanallah udara pagi Jogja. Setelah sholat saya langsung turun untuk makan pagi di lobi hotel, kemudian kemas-kemas, sebelum meninggalkan hotel. Pagi itu hujan. Sempat berniat buka ojek payung tapi malu dong ah sama kamu. Perjalanan selanjutnya: Merapi Volcano Tour! 

Minggu, 22 Juli 2018

Keviralan Yang Fana


Dunia maya adalah tempat pelarian dari segala kenyataan yang memuakkan yang ada di dunia nyata. Ada kesenangan tersendiri, kebahagiaan tersendiri memerhatikan tingkah laku warganet yang kreatif dan penuh caci maki. Iya, keributan yang melibatkan beberapa orang sebenarnya pertunjukkan bagi pihak netral. Itulah kenapa saya di twitter mengikuti infotwitwor. Bukankah cerita baru menjadi seru ketika muncul konflik? Begitu pula dengan hidup ini. Kebetulan saya juga senang keributan.