Minggu, 14 Oktober 2018

Menunggu Bencana


Duka sedalam-dalamnya saya sampaikan pada saudara-saudara saya di Lombok, Palu, dan Situbondo. Saya bukan orang yang mudah tersentuh, kecuali hal tersebut menyangkut keluarga saya sendiri. Dan ketika mendengar kabar dan melihat lewat video-video yang beredar di dunia maya tentang musibah yang menimpa saudara-saudara saya, pertama gempa di Lombok, lalu tsunami di Palu dan--semoga menjadi yang terakhir, gempa Situbondo, saya sangat terpukul. Apa yang telah mereka lakukan sehingga mendapat musibah seperti itu?


Berhari-hari musibah di tiga daerah tersebut menjadi topik utama di pelbagai media. Reruntuhan bangunan, wajah-wajah sedih dan lesu, dan macam-macam dampak lainnya, menjadi pembahsan yang terlalu menyayat hati untuk diikuti. Bahkan, ketika intensitas berita di media terkait bencana di ketiga daerah tersebut berkurang, duka masih terasa di linimasa Twitter saya. Ada yang kehilangan keluarga dan masih berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya, ada yang pergi menjauh untuk mencari hidup baru, sebab ia sudah tak punya apa-apa lagi di kampung halamannya. Mereka berjuang, mereka percaya tentang sesuatu yang disebut harapan.

Senin, 10 September 2018

Aku Jancuk Padamu


Telinga saya sudah menjadi teman akrab kata-kata jancuk sejak bangku madrasah ibtida’iyah. Kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, kata jancuk seolah menjadi kata imbuhan yang menghiasi setiap bentuk perkataan, tak peduli itu kalimat perintah, sapaan, atau ungkapan kegembiraan maupun kekesalan. Bagi beberapa orang, sulit untuk menghindari hal tersebut, karena telah menjadi kebiasaan yang berlangsung dalam waktu yang lama.


Saya sendiri, dulunya, tidak berani untuk mengucapkan kata jancuk, apapun kondisinya, karena keluarga saya mengatakan kalau kata jancuk adalah kata kotor yang tak sepatutnya diucapkan dan saya akan mendapat dosa ketika mengucapkan kata tersebut. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, tentu saja larangan itu saya patuhi, meski tak begitu yakin perihal hukum pengucapannya dalam agama.

Minggu, 29 Juli 2018

Universe Goes to Ngayogyakarta Part 5: Merapi Volcano Tour!


Part sebelumnya baca di sini
 
Setelah kejadian yang luar biasa tadi, akhirnya saya bangun, tanpa ada teriakan minta tolong. Sebelumnya kami sepakat untuk memasang alarm di waktu yang sama agar bisa serentak membangunkan kami semua, tapi ya kenyataannya tidak demikian. Entah dibangunkan teman atau suhu dingin, saya lupa, saya bangun kemudian langsung mandi. Pukul sekitar 4 pagi waktu itu dan subhanallah udara pagi Jogja. Setelah sholat saya langsung turun untuk makan pagi di lobi hotel, kemudian kemas-kemas, sebelum meninggalkan hotel. Pagi itu hujan. Sempat berniat buka ojek payung tapi malu dong ah sama kamu. Perjalanan selanjutnya: Merapi Volcano Tour! 

Minggu, 22 Juli 2018

Keviralan Yang Fana


Dunia maya adalah tempat pelarian dari segala kenyataan yang memuakkan yang ada di dunia nyata. Ada kesenangan tersendiri, kebahagiaan tersendiri memerhatikan tingkah laku warganet yang kreatif dan penuh caci maki. Iya, keributan yang melibatkan beberapa orang sebenarnya pertunjukkan bagi pihak netral. Itulah kenapa saya di twitter mengikuti infotwitwor. Bukankah cerita baru menjadi seru ketika muncul konflik? Begitu pula dengan hidup ini. Kebetulan saya juga senang keributan.

Sabtu, 30 Juni 2018

Dia Kembali

Semenjak kau beranjak melukis jarak
Peduli apa aku perihal hati
Lebur sudah jadi debu berterbangan terbawa angin lalu
Terombang-ambing tak tentu tanpa tuju

Ah, rasa itu
Menunggangi waktu ia penuh rindu
Kenangan dan angan berkelahi saling tuduh
Siapa yang memanggilnya kembali?

"Aku pulang," sapanya lembut dan menusuk remuk hati.
Beku, menggigil sekujur tubuh
Erat, kupeluk ia rekat-rekat
"Jangan pergi lagi," bisikku.

Sabtu, 09 Juni 2018

Kalau Ada Salah


Lebaran sebentar lagi dan semoga setiap kita yang mengharap bertemu dengan hari kemenangan, akan benar-benar sampai untuk merayakannya bersama keluarga besar, baik yang mudik ke kampung halaman atau hanya menetap di tempat. Walau kita seharusnya sedih karena Ramadan telah usai, karena tak ada jaminan kita akan berjumpa lagi tahun depan, meski begitu sebagai manusia yang banyak khilaf toh tak apa sedikit bersuka cita barang sehari atau dua hari. Dengan catatan segala sesuatu yang kita dapatkan selama sebulan penuh melawan nafsu bisa benar-benar kita terapkan di bulan-bulan selanjutnya. Semoga kita salah satu hamba-Nya yang berhasil.

Rabu, 06 Juni 2018

Suara Dalam Pelecehan Seksual


Sexual harassment (pelecehan seksual) sedang ramai di dunia maya dan lama-kelamaan saya resah dan ingin menuliskan atau menyuarakan pendapat saya, bukan sebagai pelaku atau korban—jangan sampai, tapi sebagai orang awam yang berusaha seobjektif mungkin dalam menyampaikan fakta-fakta serta opini saya. Maka, jika ada kesalahan atau kekeliruan, silakan perbaiki atau benarkan, karena di sini kita sedang berdiskusi layaknya teman lama yang bertemu kembali. Tak ada maksud menggurui atau menyudutkan, semua atas dasar keresahan.