Langsung ke konten utama

Tiga Pilihan Presiden Indonesia, Siapa Bisa Dipercaya?

Tidak ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Opinimu Tidak Sepenting Itu

Ada golongan orang yang merasa satu hari tidak cukup hanya 24 jam saja. Terlalu banyak urusan yang perlu diselesaikan, tapi terlalu sedikit waktu yang disediakan. Kemudian, di sisi lain, ada juga golongan orang yang seolah memiliki seluruh waktu di dunia. Salah satu tandanya adalah mereka mempunyai keleluasaan menggunakan waktu untuk beradu opini dengan orang asing di media sosial--yang kenal saja tidak. Saya adalah orang yang termasuk ke dalam golongan pertama dan iri dengan golongan kedua. Saya membayangkan orang-orang yang berada di golongan kedua--orang-orang yang aktif memberi dan meributkan opini, terutama hal-hal yang tidak sejalan dengan pola pikirnya--adalah mereka yang pintar mengatur waktu dan telah menyelesaikan seluruh tanggungannya di hari itu. Alhasil mereka punya waktu lebih untuk meladeni semua opini yang berseberangan dengannya. "Buah durian tidak enak," tulis si A di media sosialnya. "Eits, padahal buah durian itu enak, loh. Rasanya unik, baunya asyik,...

Meraba Pedoman Ospek yang Ideal

Kita sedang terpuruk dengan keberadaan covid-19, tapi alih-alih memfokuskan diri untuk bersatu mengalahkan virus sialan itu, kebanyakan dari kita teralihkan dengan isu-isu lain yang silih berganti mencuat. Hampir setiap hari ada saja perkara yang menyita perhatian dan mengikis kewarasan. Profesor gadungan, polemik anjay, dan yang masih hangat, pelaksanaan ospek. Sebenarnya selalu ada opsi untuk tidak acuh dengan segala hal yang terjadi. Apapun masalahnya. Namun, dalam kasus tertentu, melepaskan uneg-uneg justru jadi salah satu cara yang ampuh untuk menjaga kewarasan. Maka duduklah saya di depan laptop dan mulai mengomentari ospek kampus. Layaknya musim perkawinan tapir, perdebatan antara kubu pro dan kontra pelaksanaan ospek ini selalu terjadi setiap tahunnya. Dan, menurut saya, selama mereka hanya menjatuhkan kubu lain dan menutup telinga sendiri, maka perseteruan ini mungkin berlanjut sampai cucu ke-7 saya lahir. Mereka perlu duduk di satu forum, mungkin dengan pihak instansi di mana...

Mari Bertengkar tentang Selera Musik

Kamu tidak harus menyukai apa yang orang sukai dan, begitu pula sebaliknya, kamu tidak bisa memaksa orang mendengar apa yang menurutmu enak didengar.  Suatu waktu saya meminta teman-teman di Instagram untuk menulis topik di open question story. Kebiasaan untuk menambah relasi dan berdiskusi (baca: caper). Setelah itu, saya akan memberikan opini tentang apapun itu dengan serampangan. Ada yang memberi topik soal pelet, representasi muslim di industri hiburan barat, dan mermaid--tanpa memberi konteks apapun, asu kamu ya, Gaby. Beberapa saya tanggapi dengan bercanda, sisanya saya pikir matang-matang untuk mencegah blunder yang mencederai imej. Selain itu, saya juga berharap orang akan mengira bahwa saya orang pintar dan berbudi pekerti yang luhur. Padahal, untuk topik-topik yang asing di pikiran, saya pasti riset kecil-kecilan dulu. Ya, minimal bersumber dari 72 jurnal yang terindeks scopus dan tervalidasi oleh mba senjatanuklir. Umumnya, setelah saya memberi opini, tidak ada yang mem...