![]() |
Photo by Francisco Delgado on Unsplash
|
Beberapa waktu yang lalu, iseng saja, saya menelusuri rekam
jejak aktivitas daring diri sendiri. Tidak banyak yang bisa ditemukan selain
kealayan yang murni. Cuman satu akun yang berhasil saya lacak, tentu saja
takkan saya sebutkan di sini, tapi kalau kalian punya waktu luang untuk
mencari, silakan. Tak ada yang menghalangi. Sebab, di sisi lain, saya masih
berusaha dengan pengetahuan yang saya punya untuk melenyapkan aib tersebut.
Malu, jelas. Menyesal, sedikit banyak, iya. Saya ingin
bertanya apa yang ada di pikiran saya waktu itu sampai-sampai dengan sadar
membuat akun serta melontarkan pernyataan-pernyataan yang menyiksa logika saya
yang sekarang. Tapi, tanpa pengalaman saya-yang-dulu, maka saya-yang-sekarang
tidak akan seperti saat ini.
Seperti halnya power rangers—trivia, profesi tersebut sempat
masuk ke dalam cita-cita yang saya impikan, namun perlahan menghilang saat
mendekati masa akil baligh—kita semua berubah. Tak perlu jauh-jauh belasan
tahun, saya-yang-kemarin saja bisa jadi sangat bertolak belakang dengan
saya-yang-sedang-menulis-tulisan-ini.
Bahkan, contoh lain, kerap kali saya menghapus caption atau
twit sepersekian detik setelah saya mempublikasikannya. Saya merasa argument yang
tertulis sudah tidak relevan lagi dan jika dibiarkan, bisa mengancam reputasi
yang saya miliki. Itulah, manusia—yang mana adalah saya, kamu, kita, cie,
berubah.
Maka, menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya acuan
penilaian terhadap seseorang tentulah hal yang arogan. Jika kita menilai Umar
Bin Khattab dari masa lalunya saja, maka beliau adalah musuh umat Islam yang
selayaknya dibenci karena sikap kerasnya terhadap Islam waktu itu dan
ketidaksukaannya terhadap Rasullullah SAW. Namun, setelah berubah, setelah
masuk Islam, Umar justru jadi salah satu orang yang paling dipercaya Rasulullah
SAW dan berjuang teguh dalam Islam hingga akhir hayatnya.
Mungkin agak bersegmen penjelasannya, maaf. Itu contoh yang
pertama kali terlintas di kepala. Saya rasa tak perlu contoh lain, sebab saya
yakin kalian sudah paham dengan poin yang ingin saya sampaikan. Mungkin
sekarang saya setuju sekali dengan pendapat di tulisan kali ini, tapi tidak ada
yang menjamin saya akan tetap teguh pendirian dalam satu minggu ke depan, satu
bulan ke depan, dan seterusnya. Sebab, setiap harinya dalam menjalani hidup,
ada saja hal-hal yang baru saya ketahui dan mengubah cara pandang akan sesuatu.
Jadi, kesimpulannya, power rangers memang hanya rekaan, karena kita tak pernah benar-benar bertemu secara langsung, atau jangan-jangan
mungkin kitalah power rangersnya—yang selalu berubah saat konflik datang.
Komentar
Posting Komentar