Langsung ke konten utama

Merayakan Hari Lahir

Dini hari, 15 Desember 2014.


Saya dibangunkan oleh alarm handphone. Mungkin ini sampeyan pikir hal biasa, tapi bagi saya, ini mengejutkan. Dan ini perlu dicatat, saya langsung terbangun ketika mendengar alarm. Biasanya, ya, saya memang terbangun, tapi hanya untuk mematikan bunyi bising alarm saja, lepas itu, saya tidur lagi.


Pukul 01:30. Tepat seperti apa yang saya rencanakan. Alasan kenapa saya memasang alarm sepagi tiu adalah saya ingin bertemu dengan Tuhan. Kata orang, Tuhan akan berada lebih dekat ke hambanya dan konon doa yang dipanjatkan di sepertiga malam akan lebih mustajabah.




Saya keluar kamar dan mencoba menutup pintu sepelan mungkin, agar tidak membangunkan orang tua atau adik saya. Kemudian saya pergi ke belakang dan mengambil wudlu. Sebuah percobaan yang saya lakukan demi bertemu Sang Pencipta adalah melalui shalat Tahajjud. Dan saya harap, Tuahn benar-benar bertemu dengan saya. Mungkin mengabiskan waktu beberapa menit untuk berbincang.

Setelah wudlu, saya merasa tenang dan nyaman. Alam terasa seperti berhenti dan melihat saya. Tidak ada rasa takut bangun sendirian dan berada di ruang belakang rumah. Saya lantas melakukan shalat sunnah dua rakaat tersebut. Luar biasa, saya tidak pernah merasa shalat sekhusyuk kali ini. Tak ada rasa buru-buru atau gangguan lainnya. Biasanya, ketika shalat, saya masih berpikir mengenai hal-hal lain. Tapi kali ini saya terfokuskan kepada shalat yang saya lakukan.

Hari ini, 15 Desember 2014, saya berulang tahun. Ulang tahun bagi saya bukanlah hal yang istimewa. Tahun ini saya genap berumur 14 tahun. Dari 13 tahun sebelumnya, ulang tahun saya tidak pernah dirayakan. Tidak ada perayaan seperti mengundang badut ataupun meniup kue atau hanya sekedar ditaburi tepung oleh kawan. Saya sendiri, tidak mempersalahkan hal itu, toh itu hanya simbolik saja. Dirayakan atau tidak, toh saya tetap hidup sampai sekarang.

Oleh karena itu, kali ini saya memilih merayakan ulang tahun sendiri. Iya, saya merayakan dengan curhat dan berdialog dengan Tuhan.

Setelah shalat, saya mengaji. Sudah agak lama saya tidak mengaji. Mungkin sejak bulan ramadhan kemarin. Beberapa kali memang saya mengaji, tapi tidak rutin. Pembatas al-quran itu berada di ayat ke 188 surah al baqoroh. Sangat  jelas, itu masih awal. Ini dapat dikatakan sebagai kemunduran.

Karena musala berada tepat disamping kamar ibu, saya berusaha menjaga volume suara. Saya takut ibu bangun dan mungkin dia mengira ada jin yang sedang mengaji. Lagipula, suara saya ketika mengaji juga tidak terlalu bagus. Agak serak dan sesekali mengulang ayat yang salah baca.

Saya berdialog dengan Tuhan. Oh, barangkali lebih cocok disebut curhat pada Tuhan. Dan saya rasa, Dia adalah pendengar yang baik dan sedang menyimak dengan khusyuk curahan hati hambanya. Saya tidak perlu takut Dia akan tertidur atau pergi meninggalkan saya. Dan saya harap, Tuhan memaklumi kecakapan saya berdialog dengan-Nya.

Habis beberapa lembar, saya menutup al-quran. Kali ini adalah bagian yang mungkin terpenting. Waktunya berdoa. Saya dekatkan kedua telapak tangan ke muka lantas berdoa. Saya kira, ini adalah doa terpanjang yang saya panjatkan dalam bahasa Indonesia, satu-satunya bahasa yang saya kuasai dengan baik dan saya yakin Tuhan memahami segala bahasa.

Semua uneg-uneg saya sampaikan, keinginan, harapan dan ampunan. Tanpa saya sadari, saya menangis. Tapi hanya mbrebes mili tidak sampai sesenggukan. Semua mengalir begitu saja. Saya biarkan membasahi pipi saya. Saya mencoba menahan agar tak keluar lebih banyak, tapi apa daya, air itu terus keluar. Sebisa mungkin saya tidak mengeluarkan suara, takut ibu saya terbangun dan heran. Jin yang setelah mengaji, lalu menangis.

Titik dimana air mata saya mulai keluar adalah ketika saya berdoa ingin Tuhan memberikan umur yang panjang bagi kedua orang tua saya dan memintakan izin untuk memberangkatkan mereka ke tanah suci. Itulah impian terbesar saya. Saya ingin membalas segala hal yang telah mereka berikan pada saya selama ini. Saya tidak peduli dengan apa dan bagaimana nantinya saya memberangkatkan mereka, yang penting mereka harus menginjakkan kaki di tanah suci sebelum mereka meninggalkan saya. Titik.

Kemudian setelah itu giliran saya bersyukur masih diberi umur. Dan sampeyan tahu, Tuhan bisa saja membangunkan saya dengan keadaan gagal ginjal, tumor di kepala atau kanker paru-paru dan membutakan mata atau memutus seluruh saraf dalam tubuh saya, jika Dia mau. Tapi tidak, saya bangun dengan keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya. Di sinilah saya tahu bahwa Tuhan sangat mencintai setiap makhluk ciptaannya.

Saya mempunyai hobi yang lucu. Merenung, atau bisa dikatakan melamun agar terdengar lebih manusiawi. Apa saja saya renungkan. Semua bermula dari jenis pertanyaan 'Kenapa..?" Kenapa matahari terbit dari timur? Kenapa kodok senang 'bernyanyi'? Kenapa saya jomblo, eh? Kenapa kuku saya, walaupun dipotong berkali-kali, tetap tumbuh? Kenapa saya diciptakan?

Saya ingin juga menanyakan hal yang sama kepada kalian semua. Kenapa kita diciptakan oleh Tuhan? Untuk apa?

14 Tahun sudah saya bernafas. Tapi apakah saya sudah benar-benar hidup? Saya rasa belum. Selama ini saya hanya mengurangi gas O2 dan menambah CO2 saja. Tidak ada perbuatan yang menunjukkan saya benar-benar manusia, manusia yang utuh. Dalam suatu riwayat, dikatakan bahwa "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain." Pertanyaanya, Apa manfaat yang telah saya berikan kepada orang lain, orang tua atau teman?Saya seperti pecundang. Tidak tahu harus berbuat apa dan berjalan kemana. Hidup saya datar, tidak ada lonjakan yang signifikan. Dan saya kurang menyukai hal ini. Saya tidak mau bertahan lama-lama di zona nyaman. Karena saya pernah membaca, bahwa hidup baru dimulai ketika zona nyaman kita usai.

Postingan kali ini mungkin, bagi anda, tidak penting. Saya tahu itu. Tapi tak apalah, penting atau tidak itu tidak penting. Saya hanya ingin berbagi. Dan satu-satunya hal yang bisa saya bagi hanyalah ini, tulisan-tulisan aneh dan tak indah. Ijinkan saya mengakhiri postingan kali ini dengan berkata bahwa:

Bukan berapa lama kita hidup, tapi berapa banyak hal baik yang kita berikan pada hidup. Mari mengidupkan hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Bodoh Tapi Jitu Raih Sensasi

Bagaimana jika ‘mempertontonkan kebodohan’ sudah menjadi salah satu opsi untuk meraih popularitas? Dan, sialnya, cara tersebut memang ampuh sekali. Siapa biang keladi yang harus kita cac maki? Saya khawatir, korona ini, selain mengancam nyawa, juga berpotensi merusak akal sehat. Mungkin korona bukan penyebab satu-satunya, tapi mari kita melihat beberapa hari belakangan. Setidaknya ada dua kebodohan yang mengusik kehidupan kita yang tengah kacau ini.

Belajar dari Iklan Rokok

Iklan rokok adalah paradoks yang menyalahi pemahaman soal bagaimana trik pemasaran seharusnya bekerja. Ia menabrak teori pemasaran untuk mengakali batasan yang ada.  Tapi, justru hal itulah yang membuatnya menarik untuk dipelajari dan ditelaah baik-baik. Pernah melihat bentuk produk rokok di iklan rokok? Seharusnya tidak, sebab menurut UU Penyiaran tahun 2002, iklan rokok dilarang menampilkan pemeragaan wujud rokok. Jika dipikir baik-baik, maka peraturan tersebut tidak masuk akal. Tidak semua brand , apalagi hanya level UMKM atau temanmu yang sering berjualan lewat instagram story, mampu untuk mengakali peraturan itu.  Di sisi lain, pembatasan tersebut justru memperlebar kreativitas dalam memasarkan produk mereka--bahkan terkesan terlalu serampangan jika perhatikan sekilas. Hari ini iklan rokok menampilkan orang berselancar, besok memanjat tebing, nanti pergi ke bulan. Liar tanpa batasan. Meskipun, saya tahu betul di balik itu semua ada insight/ benang merah yang coba disa...

Atur Saja Gaya Pakaianmu Sendiri

Perlu diakui, menilai penampilan orang lain adalah kegiatan yang menyenangkan. Kita tak perlu menempuh pendidikan khusus agar mahir mengaplikasikannya. Sekali pandang saja sudah lebih dari cukup untuk mencari titik lemah dan keunggulan gaya berbusana orang lain, tentu saja tanpa perlu mempertimbangkan alas an-alasan dibalik pemilihannya, karena kita tak punya waktu untuk itu. Sebab kita hanya melihat apa yang terlihat.