Langsung ke konten utama

Hari Lahir dan Kaleidoskop 2018


Tidak ada yang menyuruh sampeyan membaca tulisan ini. Baca tulisan yang lain saja. Hush.

Sebelumnya, tulisan tentang hari kelahiran saya selalu berisi dengan hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang saya lakukan sebagai perayaan atas munculnya saya di dunia, kemudian saya sadar bahwa hampir tiap tahun semuanya tak jauh berbeda. Tidak ada kejutan, kue, badut, dan hal kekanak-kanakan lainnya. Tak apa. 

Oya, saya sedang flu dan agak pusing ketika menulis postingan ini, jadi saya punya alasan, selain saya memang begini adanya, jika sampeyan menemukan kata-kata atau kalimat yang membingungkan. Maafkan. Lagipula, tidakkah sampeyan punya aktivitas lain yang lebih bermanfaat ketimbang membuang-buang waktu dan kuota, barangkali, pada hal yang sama sekali tidak memengaruhi hidup kalian. 


Ini sekadar catatan rutin tiap hari kelahiran saya dan sebagaimana mewakili kata rutin, saya harus menuliskannya dalam waktu yang sudah ditentukan, meskipun sudah hampir terlewat seminggu. Bagaimanapun, harus ada yang saya tulis untuk bahan bacaan kelak, saat saya tak sanggup melakukan hal-hal yang mengancam tulang-tulang atau persendian.

Tahun ini saya berulang tahun di luar kota. Bukan sebuah kesengajaan. Ada acara jurusan yang kebetulan bebarengan dengan hari kelahiran saya. Bahkan saya curiga, teman-teman kuliah saya tidak menyadari hal tersebut. Lagipula, ya, buat apa. Hari berjalan seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda akan ada kejutan atau apapun itu. Hingga sore harinya, tepat di hari kelahiran saya, teman saya, Sae namanya, mengucapkan selamat ulang tahun lewat aplikasi pesan singkat, lalu menyebarkannya di grup kuliah, barulah semuanya berbondong-bondong mengucapkan hbd, habede, dan sejenisnya. Bahkan berlanjut sampai keesokan harinya, karena memang kebanyakan telat mengetahuinya.

Tapi, acara jurusan tersebut, sangat menyenangkan bagi saya. Di acara tersebut saya tertawa sampai menangis akibat kepolosan salah seorang teman saya. Tiga hari di Trawas, perut saya sixpack akibat kebanyakan ketawa. Sudah lama saya tidak tertawa lepas.

Sebenarnya, sebelum itu, keluarga saya telah mengucapkan selamat ulang tahun lewat aplikasi pesan singkat di pagi hari, kemudian beberapa teman SMA yang bermain twitter mengucapkan hal serupa waktu agak siang, padahal saya sengaja tak memasang hari ulang tahun di pelbagai media sosial yang saya gunakan, kecuali facebook karena memang jarang sekali saya buka, tapi teman saya, Icha, mengucapkannya. Saya tak tahu apa yang membuatnnya ingat hari kelahiran saya, atau mungkin ia sengaja memasang pengingat, saya tak tahu. Tapi, terima kasih. Yang pertama harus selalu dihargai, karena sisanya biasanya hanya latah saja.

Sementara itu, berbeda cerita dengan teman kuliah saya, Sae. Kebetulan kami memiliki nasib yang tak jauh berbeda, karena kami hari kelahiran kami tak terpaut begitu jauh, dia lima hari setelah saya. Seringkali, sebagai Sagittarius, kami sering dilupakan karena teman-teman telah sibuk dengan urusan liburan masing-masing, sampai lupa hanya untuk sekadar mengucapkan selamat. Meskipun, kalaupun ada, rasanya ya, biasa saja bagi saya. Kecuali orang pertama.

Yayaya, baca catatan ulang tahun saya sebelumnya jika ingin tahu kenapa ucapan selamat tak begitu bermakna bagi saya.

Saya berniat catatan hari lahir yang ini dan seterusnya kelak saya buat sebagai sarana perenungan atau interopeksi diri selama setahun belakangan. Semacam kaleidoskop. Hal-hal berkesan yang saya lalui, yang bisa saya ingat kemudian hari.

Di umur ke-18 kemarin, banyak sekali hal luar biasa yang saya alami. Beberapa doa dikabulkan Tuhan dengan cara yang tak terduga. Lebih dari itu, Dia juga memberikan apa yang tidak saya minta. Pun dengan cara yang tak terduga-duga.

Sekilas saja. Nanti kalau saya punya waktu, saya akan cerita secara utuh.

Saya pergi ke jogja dengan teman-teman SMA. Banyak kenangan tertinggal di sana.
Saya lulus dari SMA dengan nilai yang membanggakan bahagia dan haru.
Saya sebagai ketua kelas mengurus nilai teman-teman yang hendak mendaftar kuliah jalur undangan, di saat saya sendiri sudah tidak lolos seleksi awal.
Alhamdulillah, saya diterima di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga jalur SBMPTN. Bertemu teman-teman baru, cerita-cerita baru.
Dibelikan kamera orang tua sebagai hadiah atas diterimanya kuliah.
Naik kereta ke Malang untuk pertama kalinya. Kemudian menggembel di sana.
Pertama kali ikut kepanitian di Scolfest 2018. Daftar pubdok, masuk perkap. Tidak apa-apa. Pengalaman.
Diterima di Zetizen sebagai digital content creator, lalu sekarang dipindah ke reporter. Menyenangkan ketika tahu tulisan saya, ya meskipun telah disunting beberapa bagian, masuk di koran nasional. Hal itu berkat teman saya, Arga, yang member tahu kalau ada lowongan. Kudos.

Itu hal-hal yang saya ingat. Mungkin ada yang terlewat. Akan saya perbarui kalau tidak ada waktu.

Intinya, 2018, bagaimanapun juga, adalah tahun yang menyenangkan bagi saya. Banyak hal yang berhasil membuat saya bersyukur pada apa-apa yang saya dapatkan dan alami. Terima kasih.

Komentar

  1. Semoga yg tertunda di tahun 2018 bisa terwujud di tahun 2019, aamiin..

    Sukses terus mas Edwin.

    Mampir balik dong, www.kyndaerim.com

    Makasiih..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Percaya Polisi

ACAB. All cops are bastards . Semua polisi adalah bajingan.  Belakangan kata-kata itu populer di pelbagai medium--terutama media sosial. Alasannya? Banyak. Dua di antarannya adalah kasus polisi menembak polisi yang berkelit entah ke mana hingga yang terbaru tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Malang. Munculnya seruan ACAB, apapun alasan yang melatarbelakanginya, jelas perwujudan sikap murka masyarakat terhadap polisi dan hal-hal buruk yang menyertainya. Sebab, polisi, bagaimanapun juga, adalah instrumen kenegaraan yang mestinya memiliki martabat yang terlalu agung untuk dihina. Lalu, kenapa bisa begitu? Ada ekspektasi dan realita yang bertolak belakang antara harapan masyarakat dengan hal-hal yang dilakukan oleh polisi di lapangan. Tugas pokok polisi menurut pasal 13 dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 antara lain: a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; b. menegakkan hukum; dan c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat Hanya orang du...

Opinimu Tidak Sepenting Itu

Ada golongan orang yang merasa satu hari tidak cukup hanya 24 jam saja. Terlalu banyak urusan yang perlu diselesaikan, tapi terlalu sedikit waktu yang disediakan. Kemudian, di sisi lain, ada juga golongan orang yang seolah memiliki seluruh waktu di dunia. Salah satu tandanya adalah mereka mempunyai keleluasaan menggunakan waktu untuk beradu opini dengan orang asing di media sosial--yang kenal saja tidak. Saya adalah orang yang termasuk ke dalam golongan pertama dan iri dengan golongan kedua. Saya membayangkan orang-orang yang berada di golongan kedua--orang-orang yang aktif memberi dan meributkan opini, terutama hal-hal yang tidak sejalan dengan pola pikirnya--adalah mereka yang pintar mengatur waktu dan telah menyelesaikan seluruh tanggungannya di hari itu. Alhasil mereka punya waktu lebih untuk meladeni semua opini yang berseberangan dengannya. "Buah durian tidak enak," tulis si A di media sosialnya. "Eits, padahal buah durian itu enak, loh. Rasanya unik, baunya asyik,...

Mari Meromantisasi 2020

Tanpa perlu berdebat, kita semua mungkin sepakat bahwa 2020 adalah tahun yang bangsat.  Ada rima '-at' pada kalimat di atas barangkali kalian tidak menyadarinya. Sesuatu yang sejak dulu ingin saya terapkan dalam setiap tulisan--memberinya rima. Selain enak didengar, rima juga mengesankan penulis memiliki kosa kata yang luar biasa banyak dan saya ingin dikenal sebagai orang berkosa-kata banyak. Sayangnya, tidak semua rencana berjalan seperti apa yang kita harapkan.