Langsung ke konten utama

Tak Apa Tak Tahu Semuanya

Terkadang ketidaktahuan justru memberikan ketenangan. 

Sementara itu, di sisi lain, upaya untuk mengetahui segalanya malah mengundang rasa gelisah.

Hadirnya internet memberikan akses tanpa batas terhadap informasi. Lantas media sosial melengkapinya dengan alur penyebaran yang lebih masif dan cepat. 

Setiap membuka media sosial kita disuguhkan dengan beragam informasi. Mungkin tidak semuanya berguna dan relevan, tapi kita harus menerimanya. Kita seolah dipaksa untuk mengikuti setiap peristiwa yang ada agar tetap dianggap dalam pergaulan.

Pagi ini topiknya peran suami-istri dalam rumah tangga, nanti malam berubah soal hubungan budaya dan hak asasi manusia dalam penyelenggaraan Piala Dunia, lalu saat belum paham betul, orang-orang sudah beralih ke misteri meninggalkan keluarga di Kalideres. 

Dua-puluh-empat jam sehari di depan layar rasanya tidak cukup untuk mengikuti semua yang terjadi. Selalu ada rasa resah karena takut ketinggalan berita. Fear of missing out. FOMO.

Kenapa tiba-tiba orang suka bilang 'Kamu nanya?'? Sri Asih ini siapa? Unggah photo dump tiap akhir bulan ini budaya mana?

Lama-lama kasian dengan pikiran. Ia harus bekerja keras untuk mengolah semua informasi yang sebetulnya tak begitu penting baginya. Ini beberapa kali saya alami. 

Scroll, keluar aplikasi, masuk lagi, scroll lagi. Tidak tahu apa yang harus dicari. Makin lama, makin pusing sendiri. Kurang informasi kuper, kebanyakan informasi stres. 

Maka, beberapa kali saya putuskan untuk pergi dulu dari media sosial saat rasanya sudah terlalu membebani pikiran. Paling lama saya berhasil kabur dari Instagram pribadi sebulan lamannya--tapi tetap buka aplikasi tipu-tipu itu untuk kepentingan pekerjaan. Tenang rasanya. 

Ternyata saya masih bisa hidup tanpa harus melihat instastories teman-teman. Saya juga baik-baik saja tidak mengikuti berita dan tren kekinian.

Saya cukup tahu apa yang perlu saya tahu saja. Masa bodoh dengan tren yang sedang terjadi--kecuali ada tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan. Tidak perlu menonton serial tv baru karena kebanyakan orang menontonnya, tidak usah terlalu pusing dengan perdebatan yang tak berhubungan langsung dengan kehidupan pribadi, dan tidak begitu peduli dengan tren-tren lainnya.

Harusnya, harusnya ya, kalau misal kita sudah waktunya tahu tentang suatu hal, pasti ada saja caranya kita diberi tahu. Tidak perlu memaksa mencari tahu. Ya, walaupun hal itu tergantung konteksnya dulu. Soalnya, social media specialist jelas menentang semua yang saya katakan di atas. 

Jadi, tenang saja. Tak apa ketinggalan berita, kelewatan tren, tidak tahu hal-hal tertentu. Kita sama-sama cukup tahu apa yang perlu kita tahu saja.

Saat ini bisa saja ada tren makan tahu isi kadal di Polandia, lalu warga Bangladesh sibuk mengumpulkan buah mengkudu untuk menjadi orang terkeren di negara itu, atau apapunlah. Dan kita tetap baik-baik saja berkat ketidaktahuan itu.

Kamu tidak ketinggalan apa-apa, kok. Selaw.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Percaya Polisi

ACAB. All cops are bastards . Semua polisi adalah bajingan.  Belakangan kata-kata itu populer di pelbagai medium--terutama media sosial. Alasannya? Banyak. Dua di antarannya adalah kasus polisi menembak polisi yang berkelit entah ke mana hingga yang terbaru tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Malang. Munculnya seruan ACAB, apapun alasan yang melatarbelakanginya, jelas perwujudan sikap murka masyarakat terhadap polisi dan hal-hal buruk yang menyertainya. Sebab, polisi, bagaimanapun juga, adalah instrumen kenegaraan yang mestinya memiliki martabat yang terlalu agung untuk dihina. Lalu, kenapa bisa begitu? Ada ekspektasi dan realita yang bertolak belakang antara harapan masyarakat dengan hal-hal yang dilakukan oleh polisi di lapangan. Tugas pokok polisi menurut pasal 13 dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 antara lain: a. memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; b. menegakkan hukum; dan c. memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat Hanya orang du...

Opinimu Tidak Sepenting Itu

Ada golongan orang yang merasa satu hari tidak cukup hanya 24 jam saja. Terlalu banyak urusan yang perlu diselesaikan, tapi terlalu sedikit waktu yang disediakan. Kemudian, di sisi lain, ada juga golongan orang yang seolah memiliki seluruh waktu di dunia. Salah satu tandanya adalah mereka mempunyai keleluasaan menggunakan waktu untuk beradu opini dengan orang asing di media sosial--yang kenal saja tidak. Saya adalah orang yang termasuk ke dalam golongan pertama dan iri dengan golongan kedua. Saya membayangkan orang-orang yang berada di golongan kedua--orang-orang yang aktif memberi dan meributkan opini, terutama hal-hal yang tidak sejalan dengan pola pikirnya--adalah mereka yang pintar mengatur waktu dan telah menyelesaikan seluruh tanggungannya di hari itu. Alhasil mereka punya waktu lebih untuk meladeni semua opini yang berseberangan dengannya. "Buah durian tidak enak," tulis si A di media sosialnya. "Eits, padahal buah durian itu enak, loh. Rasanya unik, baunya asyik,...

Mari Meromantisasi 2020

Tanpa perlu berdebat, kita semua mungkin sepakat bahwa 2020 adalah tahun yang bangsat.  Ada rima '-at' pada kalimat di atas barangkali kalian tidak menyadarinya. Sesuatu yang sejak dulu ingin saya terapkan dalam setiap tulisan--memberinya rima. Selain enak didengar, rima juga mengesankan penulis memiliki kosa kata yang luar biasa banyak dan saya ingin dikenal sebagai orang berkosa-kata banyak. Sayangnya, tidak semua rencana berjalan seperti apa yang kita harapkan.