Langsung ke konten utama

Universe Goes to Ngayogyakarta Part 4: Hmm Yummy dan Tragedi Kram


Cerita sebelumnya: Universe Goes to Ngayogyakarta
Pertunjukkan selesai dan syukur penampilan kelas berjalan dengan cukup baik. Selanjutnya ada acara semacam penghormatan pada guru-guru yang telah mengajar kami, dengan memberikan beberapa bunga. Sebelum itu, di proyektor dekat panggung, sebuah video tentang sekolah ditampilkan. Beberapa siswa dan guru mendapat jatah untuk menyampaikan kesan dan pesan. Saya sendiri Alhamdulillah, tidak ada di video tersebut. Setelah penayangan video, acara pemberian bunga dimulai kemudian lagu milik Ipang berjudul Sahabat Kecil diputar. Suasana riuh, sedih, dan teletubbies. Berpelukan maksud saya. 


Selalu lagu itu yang diputar ketika acara perpisahan, sialnya saya juga selalu terbawa suasana. Beberapa teman menangis sesenggukan, saya sendiri sebagai laki-laki tulen dan gemar menabung, berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata dengan sering mendongak. Kemudian UNIVERSE melingkar dan mas Firhan memimpin doa di tengah-tengah. Entah lupa saya, intinya perjuangan belum berakhir atau apalah. Saya sibuk membenarkan celana saya yang agak kedodoran waktu itu.

Setelah mengangis ria, semua saling meminta maaf. Ya, namanya juga anak kelas tiga SMA yang hendak memasuki masa-masa ujian. Tujuannya untuk menghindari doa-doa jelek dari teman lain yang pernah diejek atau dirundung. Emosional sekali. Tapi saya juga menahan tawa melihat teman-teman yang ingusnya sampai menjuntai lalu disedot masuk kembali. Maafkan saya teman-teman, tapi itu benar-benar lucu sekaligus menjijikkan.

Pertunjukkan itu pun selesai dengan haru tapi malam belum berakhir.

Kami berencana untuk pergi ke luar hotel dan berjalan-jalan ke alun-alun. Awalnya pihak sekolah sempat melarang untuk meninggalkan hotel karena sudah larut malam dan khawatir kami akan tersesat dan hal-hal buruk lainnya. Tapi, setelah beberapa teman lain berdiskusi, akhirnya siswa diperbolehkan keluar dengan catatan harus bebarengan satu kelas, punya izin dari wali kelas dan jam dua belas malam harus sudah di hotel kembali untuk istirahat. 

UNIVERSE sudah berkumpul dekat pintu dan sudah membawa jajanan sendiri, beberapa kotak donat, tapi dikarenakan belum mendapat izin dari wali kelas, kami telantarkan di situ. sebenarnya saya, sebagai ketua kelas, ehem, sudah mencoba menghubungi Bu Tri, sebagai wali kelas, uhuy, tapi beliau tidak menjawab. Mungkin sudah tidur dan kami tidak ingin mendatangi kamarnya dan mengganggu tidur beliau. Akhirnya kami pergi tanpa izin beliau.

Kami keluar dan tujuan kami ke alun-alun. Waktu itu sudah pukul sekitar sepuluh atau sebelas malam, saya lupa, dan jalanan sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa warung dan minimarket yang masih buka. Jalanan hanya ada kami dan kawan-kawan kelas lain yang kemungkinan memiliki tujuan yang sama. 

Sekian menit kami berjalan, tapi tak ada tanda-tanda alun-alun dan waktu semakin mendekati tengah malam. Bukan apa-apa, kami pergi tanpa izin wali kelas dan kalau ada apa-apa, pastilah saya yang pertama kali kena. Oleh sebab itu, di separuh jalan, saya memutuskan teman-teman untuk berhenti sejenak dan berdiskusi untuk lanjut atau tidak.

Ada yang ngotot untuk lanjut karena ya nanggung sudah jalan cukup jauh, sementara yang lain tidak ingin Bu Tri kena masalah. Setelah melalui perdebatan panjang, ya sekitar lima menit, kami memutuskan untuk berhenti dan kembali saja, setelah memakan donat-donat yang kami bawa tadi.

Wajah-wajah teman saya ada yang kecewa, ada yang tak terlalu peduli, ada yang dilihat-lihat kok rasanya ingin member recehan saking melasnya. Kotak-kotak donat pun dibuka dan dibagi rata, semua dapat satu, kecuali ada yang tidak mau baru boleh diberikan ke orang lain. Dan saat itulah kejadian bersejarah terjadi.

Saya ada di  tempat itu waktu itu, hanya saja tidak menjadi saksi mata. Cerita ini bermula dari mulut Bawang.

Di kelas kami ada berbagai jenis orang. Ada yang agak normal, ada yang hiperaktif, ada yang pendiam sangat dan orang yang termasuk golongan terakhir itulah yang menjadi tokoh utama di cerita ini. Inisialnya Danta. Saking diamnya, baik bicara atau tingkah laku, saya curiga sebenarnya dia ini manekin. Bicara seperlunya, gerak secukupnya. Kalian tahu Kaesang anaknya pak Jokowi? Mukanya mirip dengan teman kami yang satu ini. Oleh sebab itu, kami sering memanggil teman kami dengan sebutan Jeremy. Teti.

Nggak, nggak. Guyon itu.

Jadi, ketika pembagian donat, si Danta ini langsung mengambil bagiannya. Kemudian langsung memberikannya pada orang yang leih membutuhkan, yakni dirinya sendiri. Sampai sini semua masih normal. Hingga pada setelah ia menggigit donatnya, ia berkata, “Hmm… yummy.”

Sebenarnya ceritanya memang biasa dan wajar-wajar saja kalu dipikir, cuman karena si Danta ini yang biasanya pendiam, jadi lucu. Membayangkan wajah kaesangnya bilang begitu sambil senyum manja terus menggigit bibirnya sungguh menimbulkan gelak tawa. Dari cerita bawang ini, hari-hari selanjutnya menjadi hari-hari buruk bagi Danta. Sampai lulus atau bahkan reuni kelak, kami akan mengenangnya dengan hmm yummy nya. Oya, dan juga pohon danta. Semoga panjang umur, Dan.

Setelah donat habis kami kembali ke hotel. Jalan kaki. Bersama-sama. saya sendiri tidak masalah tidak jadi pergi ke alun-alun, toh kalau niatnya cuman mencari kebersamaan, saya sudah mendapatkannya. Justru pengalaman menggembel di pinggir jalan sambil makan donat barang ini akan terus melekat di ingatan saya. Kasihan sekali. Miris.

Sesampainya di hotel, ada beberapa teman yang memutuskan untuk membeli makanan di depan hotel dan sisanya langsung pergi masuk dan beristirahat. Saya termasuk yang langsung beristirahat.

Dan inilah cerita yang hendak saya sampaikan dulu.
Saya sekamar dengan lima kawan saya lainnya. Sebelum tidur kami mengobrol sambil menonton televisi dan beberapa makan. Setelah beberapa menit, akhirnya kami memutuskan untuk mematikan televisi dan tidur. Sempat terjadi perdebatan tentang suhu AC di ruangan. Ada yang mengeluh kegerahan, ada yang bilang itu sudah dingin dan kalau bangun besok pasti jadi lebih dingin. Tapi suhu tetap direndahkan.

Kalau sudah tidur dengan teman, pastilah ada saja yang dibahas sebelumnya. Apapun. Masalahnya kami besok masih ada kegiatan dan sekarang sudah pukul dua belas lewat. Dan ketika suasana mulai kondusif, salah satu teman saya, sebut saja Arlo, pamit ke kamar mandi untuk buang air besar. Yasudalah. Buat apa pamit? Kayak tulus aja.

Suasana sunyi, saking sunyinya obrolan nyamuk yang lewat telinga pun bisa didengar. Sepersekian detik kemudian terdengar bunyi, “BRRRRRROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOTTTTT” dari kamar mandi.

Keadaan yang semula damai tentram jadi riuh. Saya yang sudah hampir tertidur, langsung terjaga kembali dan terancam tidak bisa tidur karena dentuman suara yang timbul akibat pergesekan feses dengan pantat teman saya itu. Kampretlah.

Dan keajaiban Papa Bear ini tidak sampai itu saja teman-teman.
Dikarenakan suhu yang dingin, waktu paginya, tiba-tiba Arlo ini berteriak-teriak.
“He tolong, rek! Tolong! Aduhhh!” saya sebenarnya dengar, tapi saya pikir teman saya ini hanya mengigau.
Tapi dia tak berhenri berteriak malah semakin gencar.
“Rek, rek, tolonggg!” 

Saya hendak bangun, tapi teman samping saya, Helmy, sudah bangun terlebih dahulu dan membantu Arlo. Ternyata kakinya kram teman-teman. Subhanallah. Hebohnya seperti lahiran anak.

Dan paginya perjalanan kami berlanjut Gunung Merapi

Komentar

  1. Wah gusti aku jadi kangen teman-teman sma dulu yang acara live in ke tempat pedesaan, tiap hari selalu ketemu mulu, saling cerita, satu aktivitas, satu obrolan selalu, seru yo rek. Kadang ada aja kisah-kisah lucu kayak diatas gitu, bikin terkenang sepanjang masa kalau di inget-inget lagi yaaa hahaha

    willynana.blogspot.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga Pilihan Presiden Indonesia, Siapa Bisa Dipercaya?

Tidak ada. Politisi semestinya tidak diberi kepercayaan utuh – sebagus apapun kinerjanya di masa lalu dan rencana-rencana yang diwacanakan untuk masa depan. Ia patut untuk terus dicurigai, dikritik, dan dituntut atas kekuasaan yang akan/telah dimilikinya. Lord Acton, guru besar Universitas Cambridge, pernah bilang: power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely . Kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan yang absolut cenderung akan korup secara absolut. Kabar baiknya, rakyat punya hak untuk terus mengawasi kekuasaan yang telah dimandatkan pada penguasa. Hal itu dijamin undang-undang. Tapi, hal itu tidak akan terjadi jika penguasa tidak memberi ruang untuk dikritik tuannya dan melihat segala bentuk kritik sebagai ancaman atas kekuasaannya. Seorang teman pernah bilang kalau saja saya tahu orang-orang di balik ketiga pasangan dari capres dan cawapres yang tersedia ditambah lagi rekam jejak yang menyertai mereka, saya pasti takut dan enggan untuk memihak ketiga...

Review Pengabdi Setan 2: Communion

Tidak banyak sekuel yang mampu menyamai bahkan melampui kualitas installment pendahulunya. Umumnya, sekuel dibuat dengan intensi memeras keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan sisa-sisa kepercayaan penonton dari seri pertamanya, namun masa bodo soal pengembangan karakter dan ceritanya. Tapi, Joko Anwar jelas bukan sutradara yang menuhankan uang semata lantas melupakan kekuatan cerita. Maka, hadirlah Pengabdi Setan 2: Communion sebagai contoh bagaimana sekuel harus dibikin--lebih serius, kaya, dan gila. Saya bukan penggemar berat film horor, baik dalam maupun luar negeri, yang melibatkan setan-setan sebagai sumber ketakukan. Tapi, untuk beberapa kasus, saya tertarik menonton film horor karena siapa penulis atau sutradaranya--sekaligus rekomendasi film horor dari mereka. Dan nama Joko Anwar bersanding dengan Ari Aster, Mike Flanagan, dan Jordan Peele yang mana jika mereka bikin film horor, maka tolol hukumnya kalau dilewatkan begitu saja. Pengabdi Setan (2017) jadi salah satu...

[Cerpen] Kunang-Kunang dan Akhir Bahagia

Semesta sedang mengejekku. Tak ada senja kali ini, tapi itu bukan alasan kenapa aku telah menghabiskan dua gelas kopi dan beberapa batang rokok dalam beberapa jam belakangan. Ada sesuatu yang lebih serius, bahwa hari ini aku baru saja dipecat dari pekerjaanku, tepat di hari yang sama kucing peliharaanku meninggal terlindas motor di jalan depan tempat tinggalku, dan memang pantas kulampiaskan segala rasa susah dan resah di sini, di kedai kopi dekat perempatan yang ramai pengunjung namun sepi dari hingar bingar dunia. Tak ada tawa atau ceria yang terdengar dari masing-masing orang yang memutuskan untuk duduk dan minum kopi di sini. Wajah-wajah mereka murung, beberapa terlihat melamun, membuang pandangan ke luar kedai, kepada lalu lintas yang acuh. Kedai ini seperti tempat pelarian bagi orang-orang yang kesal dengan dunia dan perlu tempat untuk merenung. Karena, sejauh ini, itulah yang bisa kuamati. Dan aku, seperti yang kau tahu, adalah bagian dari mereka.