Langsung ke konten utama

Postingan

Ego dan Musik dalam Perjalanan

  Saya belum melakukan penelitian secara saintifik terhadap pernyataan saya selanjutnya, tapi rasanya setiap kita memikirkannya setidaknya sekali seumur hidup. Pasti ada momen di mana kita berada dalam kendaraan, entah itu mobil, kereta, pesawat, andong, odong-odong, apapun itu, lalu melihat ke luar jendela sambil mengamati macam-macam aktivitas yang ada di luar dan secara tiba-tiba sebuah lagu serta cerita pengandaian langsung berputar di kepala.  Ya, seketika kita adalah model sebuah video klip musik. Dalam perjalanan yang cukup jauh, saya tak begitu suka keheningan dan terus-terusan membaca pelbagai bacaan yang berada di sepanjang jalan--iklan sedot WC, janji-janji manis politisi, nama warung makan, dan sebagainya, sebab cepat atau lambat saya akan merasa pusing dan saya terlalu sayang untuk memuntahkan makanan dalam perut. Mubadzir istilahnya.

2019 dan Cerita-cerita yang Menyertainya

Manusia, atau dalam hal ini adalah saya sendiri, seringkali bersikap angkuh dan cenderung menggembor-gemborkan dirinya sendiri. Misal, masalah ingat-mengingat. Saya sering memercayakan hal-hal penting hanya kepada kemampuan mengingat saya, tanpa mencatat dan sebagainya. Padahal, tidak jarang saya lalai dan melewatkan sesuatu yang penting. Lalu, pada akhirnya saya menyesali sendiri perbuatan tersebut. Tapi, tak lama berselang, cerita-cerita soal lupa yang hampir mirip formulanya terus-menerus terjadi. Dasar manusia. Dalam rangka menanggulangi keterbatasan otak dalam hal ingat-mengingat, maka saya putuskan untuk menuliskannya di blog ini. Momen-momen yang mungkin tidak semua menyenangkan untuk dikenang, tapi di satu sisi bisa saya pakai untuk mengevaluasi diri sendiri. Lebih spesifik lagi, momen-momen yang terjadi di tahun 2019 ini. Berikut adalah beberapa di antaranya yang saya ingat:

Remeh Temeh

Lama sekali, ya. Sejak terakhir kali saya mempubplikasikan tulisan yang terkesan begitu menggurui soal berkarya, baru kali ini saya kembali untuk memperbarui beberapa hal. Saya memutuskan untuk mengganti icon blog—yang dulu saya buat sekenanya dengan photoshop waktu SMA. Meski begitu, saya sangat bangga, walau hanya inisial nama dengan background warna biru saja—dan mencoba menulis tentang sesuatu, sebuah remeh-temeh, perwujudan tanda bahwa orang yang menulis di blog ini masih hidup dan baik-baik saja, semoga.

Berkarya: Ekspresi dan Ekspektasi

Waktu itu pukul sebelas malam. Tak ada kesibukan khusus yang saya lakukan hingga terjaga selarut itu, hanya mengamati linimasa akun media sosial saya, sebuah kebiasaan yang cukup sulit untuk dihilangkan. Kemudian, tiba-tiba, ponsel saya bergetar menandakan ada pesan masuk. Tentu bukan dari pacar saya, karena pasti ia sudah tidur sehabis azan isya, ditambah lagi saya tidak punya pacar. Oke. Pesan itu datang dari salah seorang teman. Berikut isi pesannya:

Hari Lahir dan Kaleidoskop 2018

Tidak ada yang menyuruh sampeyan membaca tulisan ini. Baca tulisan yang lain saja. Hush. Sebelumnya, tulisan tentang hari kelahiran saya selalu berisi dengan hal-hal yang berkaitan dengan apa saja yang saya lakukan sebagai perayaan atas munculnya saya di dunia, kemudian saya sadar bahwa hampir tiap tahun semuanya tak jauh berbeda. Tidak ada kejutan, kue, badut, dan hal kekanak-kanakan lainnya. Tak apa.  Oya, saya sedang flu dan agak pusing ketika menulis postingan ini, jadi saya punya alasan, selain saya memang begini adanya, jika sampeyan menemukan kata-kata atau kalimat yang membingungkan. Maafkan. Lagipula, tidakkah sampeyan punya aktivitas lain yang lebih bermanfaat ketimbang membuang-buang waktu dan kuota, barangkali, pada hal yang sama sekali tidak memengaruhi hidup kalian. 

Kalau Ada Salah

Lebaran sebentar lagi dan semoga setiap kita yang mengharap bertemu dengan hari kemenangan, akan benar-benar sampai untuk merayakannya bersama keluarga besar, baik yang mudik ke kampung halaman atau hanya menetap di tempat. Walau kita seharusnya sedih karena Ramadan telah usai, karena tak ada jaminan kita akan berjumpa lagi tahun depan, meski begitu sebagai manusia yang banyak khilaf toh tak apa sedikit bersuka cita barang sehari atau dua hari. Dengan catatan segala sesuatu yang kita dapatkan selama sebulan penuh melawan nafsu bisa benar-benar kita terapkan di bulan-bulan selanjutnya. Semoga kita salah satu hamba-Nya yang berhasil.

Pendukung Seutuhnya

Tadi malam adalah final liga champions yang mempertemukan Liverpool dan Real Madrid. Sama-sama klub yang luar biasa yang juga punya pendukung fanatik di seluruh dunia. Maka, bisa dibilang, pertandingan tersebut adalah salah satu pertandingan yang paling bergengsi dan penuh bintang tahun ini. Tapi, sebagaimana pertandingan-pertandingan umumnya di kompetisi lain, apapaun itu, apalagi di partai final, tentulah harus ada yang menang dan kalah. Dan tadi malam, publik Liverpool harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor 1-3, serta kemenangan tersebut mengantarkan Real Madrid menjadi juara UCL yang ke-13 dan menjadi klub pertama yang menjuarai ajang tersebut tiga tahun beruntun. Luar biasa.