Langsung ke konten utama

Postingan

Menikah dan Hal-hal di Baliknya

Sejak lebaran tahun ini, ibu saya jadi lebih sering melempar pertanyaan dan nasihat soal pernikahan. Mulai dari menanyakan tempat tinggal pacar--berasumsi saya sudah punya pacar saja membuktikan bahwa dia tidak benar-benar tahu anaknya, lalu jangan cari calon istri yang terlalu jauh--ini berhubungan dengan budaya mudik serta pertimbangannya terkait perayaan kekeluargaan, dan dia juga berharap memiliki mantu yang hobi masak agar bisa sesekali membantunya--kedua anaknya laki-laki dan dia cukup tahu bahwa saya dan adik hanya akan membuatnya kesal jika terlalu lama di dapur bersamanya. Semuanya nasihat itu saya balas dengan: hehehe, iya. Tidak, saya sama sekali tidak kesal dalam menanggapi celetukan-celetukan ibu saya. Saya menilai celetukannya sebagai peringatan bahwa saya tidak lagi bocah. Ada banyak urusan dan tanggung jawab yang lebih besar dan menunggu untuk dipikirkan. Dan baginya, pernikahan adalah salah satu hal penting yang perlu dipersiapkan matang-matang. Oleh sebab itu, sejak m...

Mengomentari 'Jujurly'

Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi dan salah satu, jika bukan satu-satunya, materi yang saya ingat adalah tidak penting bagaimana bentuk atau cara pesan disampaikan, selama komunikan paham maknanya, maka sudah, tidak ada masalah yang perlu dibesar-besarkan. Contoh, dalam keseharian, kita tak begitu peduli kalimat yang keluar dari mulut sesuai panduan SPOK atau tidak, asal lawan bicara paham, selesai urusan. Sama halnya grammar bahasa Inggris yang kita pelajari mati-matian, ternyata tidak begitu penting dalam hal percakapan kasual. Tapi saya tidak habis pikir dengan evolusi tata bahasa yang sedang terjadi saat ini. Tidak menyalahkan, tapi penasaran bagaimana runtutan sejarah hingga muncul kata-kata revolusioner serba meng-/me-, misal membagongkan, mengsedih, mengkaget, dan lain sejenisnya. Pelopornya jelas orang penting sehingga penyebaran penggunanya mengalahi distribusi dana bansos. Belum beres mencerna tren meng-/me- yang diletakkan sekenanya, saya harus berhadapan dengan gelombang '...

Puncak Komedi Negara Demokrasi

  Kita harus berterima kasih pada negara ini. Sebab, dalam segala carut marut masalah yang kita alami setiap hari, negara seolah tak pernah kehabisan cara untuk menghibur warganya dengan pelbagai fenomena jenaka. Mungkin selera humor saya yang terlalu rendah, tapi bohong kalau saya bilang saya diam saja ketika mendengar Juliari, iya Juliari yang korupsi dana bansos Rp32,48 miliar itu, meminta majelis hakim untuk membebaskan dirinya dari segala dakwaan. Saya hampir mati ketawa ketika pertama kali mengetahui kabar tersebut.

Memahami Meditasi

Akhir-akhir ini saya sering mendengarkan siniar yang berbicara soal meditasi dan kenapa ia bisa jadi solusi untuk menenangkan pikiran. Meskipun, terus terang, tujuan awal saya hanya meredakan gangguan-gangguan pikiran agar bisa tidur lelap dengan cepat. Sebab, rasanya, mengingat dan menyesali perbuatan tolol sewaktu kecil--seperti memanggang telur busuk--adalah kesia-siaan belaka. Jadi, saya putuskan untuk mendengar siniar dan menonton beberapa episode Headspace: Guide to Meditation untuk menjinakkan pikiran.

Urusanmu, Urusanmu

Saya berniat mengajukan permohohan pada negara untuk memperpanjang waktu dalam sehari, sebab dua pulu empat jam rasanya terlalu cepat untuk mengikuti perkembangan duniawi. Instastory teman sekaligus mantan, kabar simpang siur aungan dajal di Aceh, serta rumah tangga penyanyi yang tak saya kenal secara pribadi. Mereka terlalu penting untuk dilewatkan begitu saja. Saya bisa jadi bahan cemoohan jika tak sanggup mengobrol soal stok saham atau clubhouse.

Mari Meromantisasi 2020

Tanpa perlu berdebat, kita semua mungkin sepakat bahwa 2020 adalah tahun yang bangsat.  Ada rima '-at' pada kalimat di atas barangkali kalian tidak menyadarinya. Sesuatu yang sejak dulu ingin saya terapkan dalam setiap tulisan--memberinya rima. Selain enak didengar, rima juga mengesankan penulis memiliki kosa kata yang luar biasa banyak dan saya ingin dikenal sebagai orang berkosa-kata banyak. Sayangnya, tidak semua rencana berjalan seperti apa yang kita harapkan.

Pelankan

Tidak. Tulisan ini tidak berasal dari mereka yang sudah bersepeda sejak lama, bukan juga dari orang yang telah mengikuti beragam perlombaan dan punya kaos ketat yang penuh dengan sponsor, atau pesepeda dengan rakitan yang jika ditotal bisa digunakan untuk membeli kopi. Beserta kedai dan menghidupi baristanya. Maaf mengecewakan, tapi tidak.